Jangan Pacari Aku, Nikahi Aku Ketika Tiba Waktunya Kita Bersatu


Ini kisah cintaku dengan seorang pria asing yang...well membuat aku jatuh cinta padanya karena Allah...

Sebut saja namanya Adam. Aku sudah berteman dengannya cukup lama, bahkan jauh sebelum aku memutuskan hubunganku dengan kekasihku yang terdahulu dan sebelum aku akhirnya memutuskan untuk memakai hijab.

Dia adalah sahabat yang baik. Seorang pria dengan banyak kemampuan. Bermain musik, bernyanyi, memainkan gitar, bass dan drum. Dia memang sudah mempunyai sebuah band, namun belum berminat untuk bernaung ke sebuah label. Aku dan dia mempunyai banyak sekali persamaan. Mulai dari kesukaan kami terhadap musik, kami sama-sama penyuka warna biru, hingga asal kami yang dari keluarga yang broken home. Kami juga suka bercanda dan (sayangnya) kami sama-sama keras kepala.

Hanya hal ini yang membedakan kami: aku berasal dari Indonesia sedangkan ia adalah orang Amerika asli. Kami juga mempunyai kepercayaan yang berbeda. Aku adalah seorang Muslim sedangkan ia adalah keturunan Yahudi dan Protestan (ayahnya Yahudi, ibunya Protestan). Perbedaan umur kami juga cukup jauh. Aku lebih muda 11 tahun darinya. Tapi untungnya, kami sangat menjunjung tinggi toleransi. Bahkan, ia ingin tahu lebih banyak mengenai Islam karena dia memliki keinginan untuk masuk Islam dan dia juga sangat mengagumi kebudayaan Indonesia.

Ketika aku patah hati karena pengkhianatan yang dilakukan oleh mantan kekasihku, dia adalah orang pertama yang menghiburku. Dia juga sangat marah ketika mengetahui bahwa aku telah dikhianati oleh orang yang tidak pantas menerima hatiku. Saat itu ia mengatakan, "Biarkan saja dia mengkhianatimu. Sejujurnya, dia lah yang rugi karena mengkhianatimu. Kamu adalah wanita yang baik." Aku pun tersipu malu sehingga tidak mampu mengucap kata, selain terima kasih.

Da juga terkejut melihat perubahan penampilanku yang mengenakan hijab. Ia bahkan sempat menyanjungku dan mengatakan bahwa aku lebih cantik ketika menggunakan hijab. Lagi-lagi, aku dibuat terdiam dan tersipu olehnya.

Hingga tiba waktu ketika ia menyatakan perasaannya padaku. Ia sangat terkejut karena aku tidak ingin lagi mencari kekasih.

"Sekarang, aku ingin mencari suami, bukan lagi kekasih."

Ia marah besar mendengar penjelasanku. Aku lupa bahwa ia memang phobia dengan hal-hal yang berkaitan dengan pernikahan atau komitmen sejenisnya (Gamophobia). Ini semua terjadi karena perceraian kedua orang tuanya. Namun, aku yang berpegang teguh pada keyakinanku terhadap pernikahan yang sudah jelas tertulis di Al-Qur'an, membuat kami kehilangan kontak selama beberapa waktu. Sayangnya, aku tidak berani menyampaikan hal itu padanya.

Suatu hari, ia meneleponku.

"Kupikir, kau tidak ingin berbicara denganku lagi.", kataku.

"Aku merindukan suaramu.", jawabnya.

Aku pun begitu.

Karena menyimpan rasa bersalah, aku meminta maaf padanya.

"Dengar, Adam. Aku minta maaf..."

"Minta maaf? Untuk apa?"

"Karena, aku mengatakan sesuatu tentang pernikahan."

Yang membuat aku sangat terkejut adalah dia melontarkan perkataan yang justru juga membuatku bingung.

"Hei. Seharunya, aku yang minta maaf padamu. Karena, aku juga seharusnya menyadari. Siap tidak siap, suatu saat aku juga akan mengalami pernikahan. Aku ingin menikahimu, tapi tidak tahun ini. Nanti setelah aku mengejar karir musikku."

Tak kuasa aku membendung air mataku.

Aku hanya bisa berkata "Berjanjilah padaku, nikahi aku ketika kamu dan aku sudah sama-sama siap."

Ia kemudian menceritakan aku kepada kedua orang tuanya. Dan untunglah, mereka merestui hubungan kami. Memang, awalnya adik-adik Adam tidak menyukaiku karena aku adalah seorang Muslim. Ini sempat membuat Adam marah besar, melihat aku menangis karena di-bully oleh mereka. Tidak berhenti di situ saja. Mantan-mantan kekasih Adam juga berbondong-bondong menyerangku. Syukurlah, Adam dengan penuh kasih sayang membelaku. Ia bahkan mengatakan bahwa aku adalah calon istrinya, padahal ia bahkan belum melamarku.

Suatu kesempatan, aku menceritakan segala tentang aku dan kisah hidupku. Aku hanya takut bahwa suatu hari ia menyesal telah menikahiku. Aku tidak ingin ini terjadi. Aku ingin ia mencintaiku apa adanya.

Tapi, apa kalian tahu apa yang dia katakan???

Dengan penuh kasih sayang ia mengatakan, "Aku tak peduli bagaimanapun keluargamu. Aku juga tidak peduli dengan masa lalumu. Apa yang penting sekarang adalah kamu bukan orang yang sama dengan yang dahulu."

Aku menangis terharu, ketika aku mendengarnya. Aku sangat beruntung memiliki calon suami seperti dia. Ia mungkin memiliki penampilan yang urakan, tapi hatinya rupawan. Ia pun kini mempunyai penghasilan yang tetap. Kini, tiba waktunya aku memperkenalkan Adam ke kedua orang tuaku. Aku yakin, mereka juga akan memberikan restu kepada kami.

(apa boleh minta Share di Facebook-nya???)